Mengenal Islam

what-is-islam-design_logo

Islam diturunkan sebagai din. Dain itu sendiri memiliki makna tanggungan, sesuatu yang harus dipenuhi, dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang menaati hukum.[1] Dalam din tersirat makna sebuah sistem kehidupan, oleh karenanya Kota Yatsrib setelah system kehidupan Islam dijalankan disebut Madinah. Sistem hidup Islam yang berasal dari kata aslama yang bermakna selamat, atau penyerahan. Dari situ dapat kita tarik bahwa Islam merupakan sistem kehidupan yang menyerahkan atau mengembalikan sesuatu kepada fitrah (kondisi murni, alamiah yang sehat), dan cara seperti itulah yang membawa kepada keselamatan. Allah memberikan tuntunan agar kita sesuai dengan fitrah. Diutuslah para nabi dan rasul. Sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasul terakhir. Tidak ada satu kaumpun yang belum Allah turunkan nabi untuk memberi petunjuk menuju jalam keselamtan ini, jalan Tauhid, jalan fitrah, jalan Islam maka seluruh nabi dan rasul mengajarkan ke-Islaman, dan seluruhnya disebut muslim.[2]

Dalam sejatinya seluruh ciptaan Allah senantiasa menyembah Allah, Meng-Agung-kan Nya. Karena segala ciptaan Allah sesuai dengan fitrahnya (tata hukum alamiah). Bagi Manusia dan jin sebagai mahluk dinamis jalan menuju fitrah itu adalah sebuah pilihan perjuangan. Karena sesungguhnya rasa ber-Tuhan itu sendiri sudah inheren (bersatu) dalam manusia, masalah yang ada bukanlah meyakini atau tidak meyakini keberadaan Allah zat yang maha agung, tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana mentauhidkan Allah. Meniadakan Illah selain Allah. Bahkan orang yang di mulut tidak percaya keberadaan tuhan akan dibawa pada kondisi bahwa dia harus meyakini sesuatu yang dia tidak mengerti.

Sebagai modal kembali kepada fitrah tersebut manusia dibekali berbagai macam nikmat. Tiga nikmat utama. Pertama nikmat jasmani (fisik/materi) agar nikmat itu dapat terwujud diberikan kita perangkat nafsu.[3] Nafsu merupakan perangkat yang Allah ciptakan untuk kita kendalikan. Pengingkaran terhadap nikmat nafsu ada dua macam. Pertama membunuhnya, kedua selalu menuritinya. Bukan seperti itu yang Allah kehendaki. Maka kedua bentuk pengingkaran itu baik yang mengebiri nafsu sama sekali ataupun memenuhi keinginan nafsu dengan membabi buta tidak sesuai dengan fitrah. Bukan cara hidup Islam, bukan sebuah sistem yang membawa keselamatan. Nikmat selanjutnya adalah kemerdekaan yang untuk mendapatkannya kita dibekali akal pikiran. Nilai nikmat kemerdekaan ini diatas nilai nikmat jasmani (fisik/materi). Maka mulialah orang yang demi memperjuangkan kemerdekaan rela mengorbankan fisik dan materi.[4] Pengingkaran nikmat inipun ada dua macam. Pertama memberikan kemerdekaan diri kepada sesuatu yang lebih rendah (materi, jabatan atau sesama mahluk). Menjadikan dirinya budak nafsu. Kedua menuhankan kemerdekaan diri menganggap dirinyalah yang berkuasa penuh atas segala sesuatu. Sungguh kekacauan terjadi karena pengingkaran-pengingkaran yang ada. Islam adalah satu-satunya jalan tengah yang akan membawa pada keselamatan. Namun dalam hal ini Islam menjamin kemerdekaan, bahkan kemerdekaan untuk mengingkari Allah di dunia.[5] Karena sesungguhnya yang haq dan yang batil jika sudah jelas. Proses beriman manusia terjadi secara dinamis, berbeda dengan mahluk Allah lain yang statis, Maka derajatnya lebih mulia daripada mahluk lainnya. Nikmat ketiga adalah nikmat iman untuk mendapatkannya dibekali hati nurani. Sungguh inilah nikmat puncak yang harus didapatkan dengan penuh perjuangan.[6] Perasaan mengarahkan kita rindu pada kebaikan, keindahan, kemuliaan dan kesucian. Maka kerinduan pada kebaikan menuntunkan kita menghargai nilai-nilai moral, keindahan mengajak kita menyukai nilai-nilai seni, kemuliaan membimbing kita untuk melaksanakan perintah-perintah Tuhan dan kerinduan pada kesucian membawa kita pada menjauhi larangan-larangan Allah.[7] Bentuk pengingkarannya pun ada dua. Pertama berlebihan hingga terjebak pada mistifikasi dan sufistik skolastik. Hal ini bisa membawa pada bentuk-bentuk baru cara mentauhidkan Allah. Kedua men-Tuhankan selain Allah.

Islam adalah jalan tengah, jalan fitrah, sistem hidup keselamatan, jalan alamiah yang sehat. Ibadahnya pun pada kondisi alamiah. Tidak ada pengkondisian dengan lagu, tidak ada syarat-syarat sulit yang hanya bisa dipenuhi orang-orang tertentu. Seimbang antara jasmani, pikiran dan nurani. Semua dipenuhi dalam Islam. Kita tidak menemukan penzaliman pada akal, tubuh dan nurani dalam ajarannya. Tidak ada kerahiban, penyiksaan tubuh, penindasan. Begitulah Islam tertanam dan dengannya ke5 rukun Islam tegak, dan 6 rukun iman membawa keselamatan. Wallahu’alam bishowab.

[1] al-Attas, Islam, Religion and Morality, dalam Prolegomena to the Metaphysics of islam, ISTAC, 1995, hal. 43-44

[2] Al Qur’an : (2: 130-133), (2:213), (3 : 66), (5 : 44), (6 : 163-164), (12 : 101), (16 : 120-123)

[3] Lihat karya Imaduddin Abdul Rahim : “Kuliah Tauhid” hal : 16 -26

[4] Ibid

[5] Al qur’an : (2:256), (10:99), (5:48)

[6] Al qur’an : (29:69)

[7] Lihat karya Ahmad Azhar Basyir, Falsafah Ibadah Dalam Islam, hal : 8-9

Iklan

Fitrah VS Industri

IMG_0990

“Doa sel-sel yang teraniaya adalah doa yang tak berjarak dengan Tuhan.” Kalimat yang mengusikku malam itu. Semua hadirin terdiam dan nurani-nurani yang telah lama mati seperti dihidupkan kembali.

“Kita terlalu serakah, mengkonsumsi apapun yang kita inginkan.” Dakwaan seorang Iskandar Waworuntu seperti kilat menyambar batinku. Lautan manusia hadir di lapangan itu namun suasana tetap hening dan khusuk dalam purnama yang berkawan lampu sentir, semua mencoba diam mendengarkan. Malam ini adalah malam peringatan Hari Tani. Para Petani berkumpul di lapangan desa, tidak ada tuntutan pada siapapun. Baca lebih lanjut

Hegemoni Bahasa

media

Melihat bahasa media informasi, bahasa birokrasi dan bahasa ilmu pengetahuan secara mainstream saat ini sangat memprihatinkan. Mereka memposisikan diri sebagai satu-satunya corong sah dalam menerjemahkan realitas. Masyarakat sebagai pelaku realitas dibuat tidak mengerti dan terpaksa mengikuti tafsir tunggal realitas sosial dari mereka produsen bahasa, produsen wacana, yaitu media mainstream, birokrasi dan ilmu pengetahuan.

Padahal dalam perkembangan peradaban, merelatifkan kemampanan informasi dan pengetahuan sangat penting. Baca lebih lanjut

Pendidikan, Moto Gp dan Refleksi

“Manusia membutuhkan kecemasan agar melakukan perjuangan”. Ungkapan tersebut ada benarnya saya kira. Setelah diskusi dengan kawan-kawan lama di forum alumni KAMMI komsat Unnes. Selalu ada kecemasan dalam sebuah perjuangan. Bahkan ketika Rasulullah meninggalpun beliau mencemaskan sesuatu. Apa itu? Ya benar, ummatii..ummatii..ummatii..serunya dalam kepiluan yang mendalam. Karena sepanjang hidupnya Rasulullah mendedikasikan dirinya untuk kesalamatan dunia dan akhirat umatnya.

Malam ini diskusi di group diselimuti kecemasan pada generasi mendatang. Beberapa para kaum ibu yang anaknya dalam masa keemasan atau golden age (umur 3-7 tahun) berangkat dari kecemasan. Apa yang harus mereka persiapkan untuk membekali buah hatinya pada tantangan zaman. Diam-diam haru menyelimuti batinku. Baca lebih lanjut

Aku menyikap ISIS

Menempatkan suatu duduk permasalahan pada tempatnya adalah langkah awal sebuah tindakan tepat. Sebelum mengambil langkah bagaimana menyikapi fenomena ISIS. Mengetahui apa yang melatarbelakangi isu ISIS menjadi begitu menjamur sangat penting. Kebanyakan pembahasan tentang ISIS sejauh ini cenderung dalam dua tipe. Pertama membahas bagian permukaan terkait sejarah ISIS, sepakterjangnya, dan perkembangannya. Hal tersebut baik namun belum cukup dan seringkali malah menjadi bola panas dalam umat muslim. Efeknya umat agama lain yang ada di Indonesia berpotensi melakukan tindakan ekstrim kepada umat muslim. Dalam upaya melindungi kepentingan golongan. Terjadi saling mendeskriditkan dan kecurigaan dalam rumah besar Indonesia kita. Alih-alih ingin mengungkap ISIS dan memberikan rasa aman, seringkali upaya ini menjadi jenis bentuk teror lain. Terhadap kita seluruh elemen bangsa. Seakan untuk menjadi pahlawan toleransi harus ada saudara sebangsa sendiri yang menjadi tokoh antagonis. Pendekatan kedua seringkali dilakukan oleh elemen internal umat muslim di tanah air dengan semangat golongan dalam internal umat muslim hal ini disebut ashobiyyah. Demi munculnya simpati pada golongan dan kelompoknya. Sekaligus menyelamatkan kelompoknya dari citra ekstrim. Antar umat mudah sekali melempar tuduhan dan membuat penyeragaman serta propaganda. Hal tersebut semakin memperkeruh kondisi umat muslim dan kebangsaan kita. Terjadilah apa yang disebut Fallacy of dramatic instance kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dengan mengeneralisir segala kondisi. Semua muslim yang memelihara janggut teroris, semua muslim yang memakai jubah, cadar, celana cingkrang, menolak tradisi sebagai teroris. Muslim yang menjaga diri dari lawan jenis bahkan dituduh teroris. Ciri khas umat muslim tentang musyawarah di setting untuk hilang dan digantikan dengan saling menuduh. Di pihak yang lain sebagai respon mempertahankan diri tuduhan balik menyerang dengan stigma, liberal, ahli bidah, ingkar sunnah, dan seterusnya. Walhasil masalah tidak selesai dan semakin kusut.

Hasil dari dua pendekatan tersebut adalah. Pertama. Munculnya skeptisme/kecurigaan masyarakat pada idiom-idiom islam. Hal ini gayung bersambut bagi para pengasong ide sekularisme. Menjadi ISIS (baca : Angin segar/Jawa) tersendiri untuk memelintir konsep dan pengertian tentang jihad, muslim taat, kepemimpinan islam, islam dan politik, khilafah, masyarakat muslim dan pendaran isu sangat luas. Mereka menggantikan peran ulama dalam mendidik umat. Kedua munculnya masyarakat apatis terhadap agama. Meyakini dan memegang teguh agama dinilai faktor konflik. Apatisme kepada agama akan muncul bukan hanya dikalangan umat muslim, tetapi pada umat agama lain juga. Saling tuduh menuduh dan mempertahankan diri terjadi dan mereka yang sesungguhnya tidak terlibat secara langsung cenderung terlempar di titik jenuh, memilih jalan pintas dengan berusaha bersikap baik sesama manusia dan mengacuhkan semua agama. Tipe ketiga adalah masyarakat tertutup. Ketakutan yang menyelimuti kehidupan bernegara, membuat masyarakat menjadi tertutup dan kaku. Tenang namun rentan konflik yang tiba-tiba meledak. Musyawarah sebagaimana amanat Pancasila tertinggal hanya sebagai soal-soal ujian di tingkat SD. Internal umat dan antar umat saling menyimpan kewaspadaan, penguatan-penguatan konsep kehidupan dilakukan bukan konteks penguatan kebangsaan tetapi penguatan golongan.

Entah cerita apa yang sedang dibuat. Faktanya isu terorisme menjadi semenarik isu marlyn monroo atau lady gaga sangat seksi, hot, dan periodik, setelah Amerika menyerang Afganistan dan Irak dalam upaya “mulia” melindungi dunia dari senjata pemusnah masal dan para diktator timur tengah. Invasi itu melahirkan berbagai gejolak. Kata muslim menjadi momok di banyak tempat. Seperti yang telah dibahas diatas, saling menuduh dan ektrimis dikedua belah pihak muncul. Sejak lama kekacauan ini ada dibenak penasehat gedung putih. Samuel Hutingtong dalam tesisnya benturan peradaban. Semua konflik ini adalah cita-cita ilmiahnya. Jasmerah (jangan sekali-kali melupakan sejarah) kata pesan pendiri negara ini, apa yang didapat dalam invasi-invasi tersebut? Terciptakah rasa aman dalam kehidupan antar negara? Atau semakin tegang seperti penonton ketika menyaksikan lady gaga atau marlyin monroo beraksi? Sensualitas dan kekerasan memiliki daya bius yang samakah? Ah tak mau aku berpanjang-panjang membahas teori-teori psikologi. Mungkin perang adalah bisnis menarik, mungkin anyir darah begitu menggugah selera.

Dalam umat muslim faktor eksternal munculnya radikalisme memang kuat. Tetapi perubahan pertama yang dapat dilakukan adalah faktor internal. Pertama isu ISIS tidak akan menarik jika kondisi dalam negeri kuat. Apakah isu ISIS di negara tetangga seperti Brunei Darussalam dan Malaysia menjadi sebegitu sexy di Indonesia? Kesewenangan negara, hak-hak masyarakat yang tidak terpenuhi, dan kebodohan yang terus dipertontonkan penyelenggara negara. Membuat masyarakat jenuh. Kejenuhan itu beragam sikapnya, ada yang mencari solusi lain, ada yang dengan setiap akhir pekan pesta pora, ada yang mengekspresikannya dengan vandalism. Berbagai patalogi sosial muncul karena lemahnya penyelenggaraan negara. Sebaiknya pemerintah berkaca sebelum bertindak. Kedua isu ISIS tidak menarik jika berbagai elemen umat islam lebih mengutamakan musyawarah daripada saling menuding dalam ceramah-ceramah internal. Tidaklah pantas mencela dan menuding orang yang mengambil sisi berat dalam agama ditengah kondisi seperti ini. Mereka yang ingin menjaga diri dengan tidak bersentuhan yang bukan muhrim semisal dituduh ekstrim. Mereka yang nyaman dengan bercadar dan jilbab lebar disematkan ekstrim. Mereka yang bertahlil dan menyenandungkan barzanzi di propagandakan bid’ah. Hal-hal tersebut merupakan cabang, dan sebaiknya dimusyawarahkan dengan pendekatan ilmu. Ciri umat muslim bemusyawarah harus digalangkan

Ekstrimisme dilawan dengan ekstrimisme itu seperti berusaha memadamkan api dengan mengguyur minyak. Sadarkah kita ghuluw/ektrimisme dalam memegang agama tidak lain reaksi dari bentuk sikap ekstrim yang lain. Tidak lain adalah ekstrimitas acuh kepada agama. Naif sekali masyarakat kita mencemooh burqah (Jilbab dari ujung kepala sampai ujung kaki) di sisi lain diam seribu bahasa atas eksploitasi tubuh wanita, kapitalisasi sensualisme, pakaian-pakaian provokatif syahwat. Disatu sisi mengeluarkan berjuta-juta analisa pada politisasi agama, di sisi lain tumpul pada praktik kerusakan sekularisme bernegara. Berhentilah memperolok-olok agama. Memperolok agama apapun adalah salah. Yakini bahwa agama yang kita anut (saya muslim) adalah benar, dan yang lain salah, ingkar, tanpa perlu memperolok-olok. Buat diskusi formal jika menginginkan perdebatan. Musyawarah dalam aspek sosial kemasyarakatan. Ajaklah kembali umat yang sudah terlalu jauh dari agama ke “jalan tengah” memegang kembali agamanya. Semoga kita dipersatukan dalam kebaikan. Semoga Allah memberikan petunjukknya dan mengkaruniakan kepada hati kita untuk mengikutinya. Wallahu’alam bishowab.

Surat Terbuka Untuk MENDAGRI Tjajo Kumolo

39906_09065029102014_tjahjo_kumolo

Kaget ketika membaca statement Tjahjo Kumolo tentang kolom agama di KTP. “Berdasarkan Undang-undang (UU) baru enam agama. Kalau mau tambah, harus mengosongkan, nggak ada masalah,” ujar Tjahjo di Jakarta, Kamis (6/11) untuk mengakomodir aliran kepercayaan beliau mempersilahkan mereka mengkosongkan kolom agama pada KTP. “Semangatnya Pemerintah tidak ingin ikut campur pada WNI yang memeluk aliran keyakinan sepanjang itu tidak menyesatkan dan mengganggu ketertiban umum”. Terdapat beberapa koreksi yang saya lihat dari statement beliau. Baca lebih lanjut

Manusia Pasca Qurban

qurban

Qurban berawal dari sebuah kisah Ibrahim a.s sang kekasih Allah bersama anaknya Ismail a.s sebuah kisah melegenda dan Allah memerintahkan kita untuk selalu mengingatnya. Pasti ada suatu hikmah yang sangat besar di dalamnya. Kisah inipun menjadi syariat puncak sebuah ritual ibadah haji, sebuah rukun Islam yang harus melewat 4 rukun lainnya. Karena posisinya sebagai rukun sebaiknya dilaksanakan secara berurut dan tertib. Ibadah haji adalah ibadah seorang yang menghayati betul makna Laaillahaillallah, dan Muhammadarasullah. Seseorang yang jiwa dan fisiknya menjadi satu ketika sholat, seseorang yang benar-benar dapat mengendalikan diri, keluaran dari puasa Ramadhan yang agung. Seorang jamaah haji adalah seseorang yang sudah purna materi. Baginya membayar zakat adalah bentuk pengakuan tidak ada yang dimilikinya, semuanya milik Allah dan harus diperlakukan sesuai kehendak Allah. Haji bukan sebuah short cut untuk menebus dosa – dosa. Tidak menjadi sebuah prestise kehidupan. Karena manusia haji adalah manusia pasca materi. Telah selesai jiwa itu berkelana. Jasad yang masih di dunia tak lalai memberi arti ibadah pada tiap detik geraknya. Memberikan manfaat dan keselamatan bagi setiap orang yang berinteraksi dengannya. Baca lebih lanjut